Posted on November 25, 2017        Written by Admin Sekolah

“De, nanti jangan lupa pulang tolong beli martabak manis isi keju” begitu isi pesan singkat dari Lime di HPku. “Wah masih ngidam di minggu yang ke-38” pikirku, “sure, why not”. Siang itu aku meluncur dari stasiun Central menuju ke martabak Roseberry di daerah Anzac Parade menggunakan bus bernomer 393. Menggunakan transportasi umum di kota Sydney ini boleh dibilang cukup nyaman, di sini untuk pembayaran segala jenis transportasi umum (kereta, bus dan kapal ferry) digunakan sebuah kartu yang bernama Opal. Jadi di dalamnya kita menaruh sejumlah uang yang nantinya langsung di debit ketika kartu itu dipakai saat menaiki kendaraan umum tersebut.

Salah satu hal yang paling menarik ketika menggunakan transportasi publik di Sydney adalah dapat berjumpa dengan berbagai karakter manusia dan interaksi di antara mereka. Suatu saat masuklah seorang penumpang ke dalam bus yang sedang aku tumpangi. Biasanya ketika memasuki bus, seorang penumpang sudah diharapkan untuk menyiapkan kartu opal untuk di sentuhkan pada reader dari kartu itu yang terletak di dalam bus. Penumpang ini sepertinya memang sedang mencoba untuk melewati proses itu. Driver bus itu mengetahuinya dan kemudian menanyakan dimana opalmu? Jawab penumpang itu, “Oo aku sedang mencarinya” dan driver itu sengaja menunggu hingga penumpang itu menemukan kartu opalnya. Setiap driver berbeda, ada yang cuek dan juga ada yang memang memperhatikan hal seperti ini. Tapi jika kamu bertemu dengan tipe driver yang cuek dan kamu mencoba untuk tidak membayar perjalananmu, jangan kamu berpikir situasi akan aman. Setiap saat, petugas dari Department of Transport New South Wales dapat melakukan inspeksi untuk memeriksa penumpang-penumpang dan jika kamu kedapatan tidak melakukan hal yang seharusnya, siap-siap didenda $200an. Saat penumpang tersebut menemukan opalnya, penumpang itu kemudian menyentuhkan kartu opalnya ke sensor reader kartu itu dan setelah itu terdengar bunyi yang mengindikasikan bahwa tidak ada uang dalam kartunya. Aku semakin tertarik untuk mengetahui apa yang akan dikatakan oleh driver itu. Ia bertanya pada penumpang tersebut, kemanakah tujuanmu? Dan penumpang itu menjawab ke Maroubra, suatu jarak yang cukup jauh. Kemudian driver itu mengatakan bahwa penumpang itu bisa membeli tiket single trip atau turun dan mengisi kartu opalnya dengan sejumlah uang yang cukup. Hal itu membuatku ingin melihat seperti apa reaksi penumpang tadi. Kemudian ia berjalan ke arah pintu depan bus tersebut dan berkata, “It’s okay. I will just get off here. Thank you”. Responnya ini tentu membuatku kagum, ia paham bahwa ia berada pada posisi yang tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya mengharap belas kasihan dari driver itu. Meskipun kemudian driver itu tidak mengijinkan ia naik, iapun dapat meninggalkan bus itu dengan berbesar hati. Driver itu bisa saja mengijinkan orang itu untuk tetap berada dalam bus itu meski tanpa menyentuhkan kartu opalnya. Namun, hal ini akan membawa satu resiko yang lebih besar lagi jika nanti di tengah jalan terjadi rasia mendadak oleh departemen transportasi di sini.

Salah satu hal yang membuatku salut dengan pemerintah di sini adalah mereka sudah mempersiapkan sistem sedemikian rupa untuk mengantisipasi berbagai kecurangan atau penyalahgunaan, meskipun di lapangan tentu masih saja bisa terjadi pelanggaran-pelanggaran tetapi mereka berupaya untuk meminimalkan hal itu. Namun tentu yang jauh lebih penting adalah membentuk karakter manusia-manusia yang bisa mengikuti aturan yang berlaku. Saat ini pemerintah kitapun sedang membangun ini akan tetapi proses ini akan memakan waktu yang sangat lama mengingat begitu lamanya kita sudah berendam dalam kekacauan ini. Di Jakarta, dahulu waktu Ahok ketika menjadi gubernur, ia dan timnya sudah merancang suatu sistem sedemikian rupa untuk keadaan yang lebih baik dan teratur. Tetapi sayangnya langkah ini harus terhambat dan kini kita sedang menyaksikan sebuah kemunduran kembali. Yang aku kagumi dari Ahok adalah ia orang yang memiliki integritas, apa yang ia katakan dan ia lakukan selaras. Pikiran kita merasa damai, aman, tentram dan tidak kuatir karena kita percaya bahwa uang rakyat akan aman dalam pengelolaannya dan dipakai benar-benar untuk meningkatkan kualitas hidup. Yang terjadi sekarang ini adalah sangat menyedihkan, jangankan berharap untuk uang rakyat tidak diboroskan atau dikorup, saat ini engkau melihat di depan mata kepalamu sendiri bagaimana anggaran itu sedang disedot habis-habisan dengan berbagai dalih program-program atau keperluan yang tidak jelas, namun engkau tidak dapat berbuat apa-apa. Itulah yang paling menyesakkan dada! Aku sering bertanya-tanya, sebenarnya karakter manusia itu apakah produk dari didikan orangtua, sekolah, masyarakat atau sesuatu yang sudah built-in dalam diri manusia. Mungkin aku harus menunggu waktu untuk mendapati jawaban akan hal ini.

Tekadang kita harus belajar dari seorang anak dalam hal kejujuran. Suatu saat ketika sekolah Raphael merayakan Hari Ayah di sini, ia diberi semacam kertas yang berisi pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang memori bersama ayahnya. Ada satu pertanyaan yang membuatku geli menbacanya, yakni di bagian barang apa yang ada di saku ayahmu dan dengan jujur dan polosnya ia menulis Opal !


Silakan tulis komentar Anda di sini

Email Anda tidak akan dicantumkan dalam komentar