Dunia Lain

Posted on November 25, 2017        Written by Admin Sekolah

(Tulisan ini agak bernuansa gimana gitu..kalau bisa jangan baca di tempat yang gelap, kaga keliatan)

Waktu kami masih di Melbourne, ada suatu saat dimana kami mencari sebuah rumah untuk disewa. Saat itu Raphael berusia setahun dan sudah merangkak kemana-mana dan rumah pertama yang kami tempati di daerah Springvale berukuran relatif kecil sehingga membuat ruang geraknya terbatas. Saat itu ada satu rumah yang menarik untuk kami lihat yakni di daerah Frankston karena harga sewanya yang relatif murah. Tampak luar, semuanya terasa wajar. Kamipun memasuki rumah ini. Anehnya, sewaktu kami masuk ke rumah ini Raphael tampak begitu gelisah dalam gendonganku. Ada hal yang membuatnya tidak nyaman. Ia seperti ketakutan dan tidak berani banyak melihat-lihat sekitarnya seperti biasa ketika ia berada di tempat lain yang ia baru datangi. Aku dan Lime awalnya tidak merasa ada yang aneh. Semuanya masih normal, memasuki pintu depan, ruang tamu, kamar tidur 1, kamar tidur 2. Lalu masuklah kami ke dapur, menembus ke halaman belakang, semua masih terasa normal. Namun Raphael tetap gelisah dan terus menunduk. Kemudian ketika memasuki rumah itu kembali dari arah pintu belakang, aku dan istriku baru sadar, ada yang aneh dengan rumah ini. Di samping pintu dapur yang aku lewati tadi, terdapat sebuah meja mezbah dengan diisi dupa, kalung bunga dan juga ada semacam boneka, seperti boneka voodoo dan terbukalah pikiranku bahwa rumah ini dimiliki oleh seorang yang mungkin memang penganut kepercayaan tersebut dan mungkin di rumah ini sudah ada penunggunya yang tak kasat mata. Kali kedua, suatu ketika kami pernah makan di sebuah restoran karena adanya promo dari restoran itu. Ketika kami masuk di sana, juga sama kejadiannya, setelah masuk restoran itu, Raphael hanya mendekap di pelukan mamanya dan menunduk tanpa ada keinginan untuk melepaskannya. Setelah selesai makan, mamanya bertanya padanya ada apa, ”I am scared mama”. Hal-hal tadi memang terkadang membuatku bingung, sebab sepertinya anak-anak yang masih kecil ini seperti bisa punya kemampuan untuk lebih peka merasakan suatu kuasa dari dunia lain yang bagi kita orang dewasa sepertinya tidak ada apa-apa. Sebelum aku lanjutkan menulis ini. Coba perhatikan di samping-sampingmu, apakah ada yang bergerak-gerak atau tidak? Kalau jendela ruanganmu terbuka berarti itu karena angin.

Oke, sekarang aku akan coba masuk ke inti tulisan ini. Memang sulit untuk tidak bereaksi ketika melihat banyak peristiwa ajaib yang terjadi di negeri yang bernama Jekardah itu. Terakhir adalah ketika media banyak memberitakan bagaimana uang rakyat itu dihambur-hamburkan dan dipakai bancak-an oleh oknum-oknum yang memang sudah kebelet dari dulu dan merasa bahwa keberadaan Ahok adalah yang menjadi penghalang bagi mereka menikmati pesta Lobster! Sebenarnya tulisanku ini hanya ingin mencoba memberi suatu sudut pandang yang sedikit berbeda dari apa yang kita lihat dari hal-hal yang terjadi di Jekardah itu. Ya, bisa saja banyak pembaca di sini yang tidak sependapat dengan hal ini dan hal tersebut tidak menjadi soal buatku. Engkau mungkin melihat dan mengikuti apa yang sedang terjadi di negeri bernama Jekardah itu, banyak hal-hal ajaib yang terjadi di luar akal sehat. Khususnya ketika dahulu mereka sudah punya seorang gubernur yang jujur, tegas dan mati-matian membela rakyatnya. Tapi engkau semua menyaksikan banyak orang telah menyingkirkannya oleh karena hawa nafsu mereka. Puncaknya adalah pada saat pilkada itu dimana, berdiri sebuah grup band baru bernama JKT58 dan mendendangkan lagu yang memilih pemimpin baru mereka. Kini kita melihat bagaimana ketidakberesan-ketidakberesan terjadi dan kita seperti dipaksa untuk memaklumi itu.

Sebentar ya, aku mau ke toilet dulu…Hmm oke sudah..lega..Ok mari kita lanjutkan. Percaya atau tidak, di setiap tempat itu memang ada penguasanya, penunggunya, aku tidak sedang berbicara penguasa secara manusia, tapi mereka adalah roh-roh jahat yang berkuasa di udara dan merekalah juga yang merasuki alam pikiran orang-orang itu. Melawan mereka sangat berat, engkau tidak bisa melawan mereka dengan cara meng-share berita-berita di media sosial dan berharap mata orang-orang terbuka dengan membaca berita-berita tersebut. Percuma, mata hati orang-orang sudah dibutakan oleh mereka dan medan pertempuran kita yang sebenarnya memang bukanlah di media sosial.

Seorang kawan pernah bercerita bahwa sebenarnya percuma meng-sharekan berita-berita itu toh orang-orang yang berada di bawah, seperti golongan pembantu atau orang-orang kecil yang ada di sekitar kita, sebagian besar dari mereka tidak memiliki akun facebook, Instagram atau berbagai media sosial lainnya. Jadi memang cara yang paling efektif adalah langsung berbicara dengan mereka dalam kehidupan yang nyata. Contohnya, jika di rumahmu ada pembantu rumah tangga, educate-lah, ajarlah mereka untuk mengerti sedikit tentang dunia politik di Indonesia dan siapa pemeran-pemerannya dan ajak mereka memilih orang yang benar-benar menjalankan amanat rakyat. Jika engkau seorang guru di sekolah menengah umum dimana murid-muridmu sudah cukup umur, educate-lah, ajarlah mereka tentang hal serupa dalam beberapa menit selama engkau mengajar mereka. Pesan yang ingin kusampaikan adalah bahwa dahulu lawan politik itu melakukan hal-hal ini dengan militan di level paling bawah ini, di dunia nyata, dan dari situlah menarik suara banyak orang. Media sosial bukanlah medan pertempuran mereka sesungguhnya karena orang-orang berpendidikan di media sosial sudah pasti paham betul bagaimana kualitas pemain-pemain panggung politik tadi.

Lalu bagaimana dengan roh-roh itu? Setiap tempat, negara punya roh-rohnya masing-masing. Meskipun demikian, ada roh yang memang dominan di suatu tempat dan di Indonesia, roh itu bernama kebodohan ! Bagaimana dengan tempat lain, seperti roh yang dominan di Australia ? di sini lain lagi, namanya roh depresi ! Lalu bagaimana dengan roh yang dominan di Amerika sana ? Mboh lah, emang sini kolektor roh..Tapi yang pasti menghadapi mereka tidak bisa dengan kekuatan manusia. Berdoalah untuk Tuhan dan para malaikatnya yang berperang. Trus gimana dulu waktu nyari rumah? akhirnya kami jadi ga tempati rumah yang di Frankston itu? Ya kagalah ngapain udah tau ada yang ga beres di sono, trus nekad mau ditantangin..kami akhirnya dapat rumah di tempat yang lain.

(Gambar: St. Michael Vanquishing Satan by Raphael, the artist)


Silakan tulis komentar Anda di sini

Email Anda tidak akan dicantumkan dalam komentar