Cerita Kawanku

Posted on November 25, 2017        Written by Admin Sekolah

Pernah suatu ketika seorang kawan bercerita padaku. Dulunya ia adalah seorang perokok berat, sangat berat. Setiap hari, paling tidak dua bungkus rokok katanya. Namun ia akhirnya bisa berhenti dari kebiasaan merokoknya bahkan ia kini membenci rokok. Bagaimana itu bisa terjadi? Tanyaku. Ia berkata bahwa suatu ketika anaknya yang masih kecil menghampirinya dan berkata, “Pa, udah ya rokoknya.” Ucapan anaknya itu tiba-tiba seperti sebuah mantra yang menyihir pikirannya. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi menyentuh benda itu.

“O, jadi bukan istrimu yang memintamu berhenti? Tanyaku

“Bukan, sebenarnya ia juga sudah sering memintaku tapi tidak mempan!”

Ia menambahkan,” Tapi jangan kau kira berhenti merokok itu hal yang mudah, itu hal yang sulit bahkan amat sulit!”.

Apakah engkau berhenti secara bertahap? Tanyaku.

“Tidak, seketika itu juga aku langsung berhenti!” jawabnya.

“Oya, wow luar biasa sekali!”

“Iya, itu sebuah prestasi besar buatku.”katanya. Berhenti dari merokok itu tidak semudah yang kau kira, khususnya setelah makan. Jika dirimu seorang perokok dan setelah makan engkau tidak merokok, mulutmu terasa sangat pahit, seperti digamparin sama sandal jepit!” dia bilang begitu.

Entah dia benar atau sekadar berbahasa hiperbola, aku tidak tahu, aku sendiri hingga saat ini belum pernah merokok sedikitpun. Buatku hal itu sama saja dengan membakar duit dan itu haram hukumnya bagiku. Aku masih takjub dengan perubahan radikal yang terjadi pada temanku ini. Untuk mengubah sebuah kebiasaan yang sudah mandarah daging bukan sebuah hal yang mudah. Jika engkau memiliki suatu kebiasaan yang menurutmu sangat sulit untuk ditinggalkan dan engkau ingin meninggalkan itu, maka akan ada satu ruang kosong dalam hatimu yang perlu engkau isi dengan hal yang lain. Aku bertanya pada temanku itu, lalu apa yang ia kerjakan untuk menahan rasa ingin merokok.

Ia menjawab,” berjalan kaki, terus berjalan hingga rasa itu hilang”.

Saat ini, hal serupa juga mungkin juga terjadi padaku tanpa aku sadari. Berita-berita yang aku baca dari negeri nun jauh di sana mulai mempengaruhiku. Aku yang tidak tinggal di sanapun bisa merasakan efek emosionalnya, apalagi mereka yang tinggal di tempat tersebut pikirku. Ya, tidak sedikit juga yang memang seperti merasa frustasi dan akhirnya menjadi tidak peduli dengan keadaan yang ada dan mungkin berkata pada keadaan di sana, Wednesday Thursday Friday! Aku bisa paham itu karena memang tidak banyak yang mungkin bisa dilakukan.
Suatu ketika istriku juga pernah berkata,”kamu kan udah baca berita tentang orang-orang itu kan, udah jangan abiskan waktumu buat baca-baca begituan, mending sini bantu irisin bawang merah!”

Tapi ya gitu, tetep aja engga mempan, hingga suatu saat Raphael memanggilku,” Dad, let’s play Lego!” ucapan sederhananya itu seperti sebuah mantra dalam pikiranku dan sejak itulah aku berhenti membaca berita-berita mengenai orang-orang brengsek itu dan lebih memilih bermain Lego bersama Raphael atau mengiris bawang merah!


Silakan tulis komentar Anda di sini

Email Anda tidak akan dicantumkan dalam komentar